Manuskrip Pulau Penyengat Torehan Pena Cendekiawan Masa Silam

image

PENYENGAT -- Tim dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melakukan kunjungan ke Pulau Penyengat, Kamis 18 Maret 2021. Tim yang dimaksud terdiri dari Ketua STAIN sultan Abdurrahman Kepulauan Riau Dr. Muhammad Faisal, M.Ag, Kasubag. AK DVI Afriansyah, S.Pd.I Kepala P3M Doni Septian, S.Sos.,M.IP, Kepala Perustakaan Unyil, S.Pd, Bidang Layanan Teknis dan Pengembangan Santi Puji Astuti, S.Pd dan Aferiyandi, S.Pd

Kita diterima oleh Pak Raja Malik, beliau Ketua Yayasan Kebudayaan Inderasakti Pulau Penyengat, kedatangan kita ke penyengat hari ini ada beberapa agenda diantaranya koordinasi kebeberapa pihak terkait dalam hal koordinasi pelaksanaan Haul Sultan Abdurrahman Muazzamsyah yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 21 Maret nanti dan penandatanganan MoU antara STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau dengan Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat dan dan MoA antara Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat bersama Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat. Kita tahu inderasakti ini berperan menyelamatkan warisan intelektual Melayu dalam bentuk ratusan Manuskrip dan naskah kuno, juga sebagai lembaga informasi Kebudayaan dengan adanya kerjasama ini kite berharap kalangan akademisi dosen dan mahasiswa dapat melakukan penelitian maupun kajian-kajian berkenaan dengan manuskrip yang ada, jelas kepala perpustakaan.

Selain penandatanganan MoU dan MoA, Tim juga melakukan pendigitalan manuskrip dan buku peninggalan Kerajaan Riau Lingga, diharapkan melalui pelestarian (alih media) terhadap manuskrip yang ada akan mempermudah  para peneliti untuk melakukan penelitian, karna selain datang langsung ke Pulau Penyengat bisa datang ke Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. 

Selama ini orang kenal betul dengan nama Raja Ali Haji (1809-1873) Karya-karyanya bervariasi dari karya sastra, agama, filsafat, pemerintahan dan bahasa. Di antara karyanya adalah Syair Siti Shianah, Syair Awai, dan Gurindam Dua Belas.

Di awal abad ke-19, di mana sebagian besar wilayah Indonesia masih buta huruf, pulau seluas 240 hektar tersebut telah memiliki penerbit yang menerbitkan ratusan buku ilmiah dan agama. Buku-buku yang ditulis tentang astronomi, kedokteran, agama, dan seks. Tidak hanya Raja Ali Haji tapi banyak penulis-penulis lain dan berbagai persoalan dikala itu ditulis jelas Pak Raja Malik.


[gallery ids="5281,5280,5274,5299,5298,5300"]