BINTAN--Focus Gorup Discussion (FGD) Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara merupakan salah satu tahapan dalam pembentukan pusat kajian manuskrip yang dicanangkan oleh Kementerian Agama, melalui FGD yang melibatkan berbagai stakeholder salah satunya akademisi. Kegiatan berlangsung di Aula Kemenag Bintan, Senin (19/8/2019).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan, Drs. H. Erman Zaruddin, M.M.Pd dalam sambutannya mengatakan silakan gunakan aula dan fasilitas yang ada karena aula itu dibuat oleh pemerintah untuk digunakan kalau bisa kegiata semacam ini tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Artinya beliau menyambut baik dengan adanya kegiatan tersebut.
Peserta FGD terdiri dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Kanwil Kemenag Kepri, Kemenag Kota Tanjungpinang, Kemenag Bintan, Balai Pelestarian dan Budaya Kepri, Sejarahwan Khazanah Melayu, Baitul Mal Bintan Daerah Masyhur, Sejarahwan Bintan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau dan Harian Kepri.
Kegiatan FGD (Focus Group Discussion) Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara ini dilaksanakan oleh Badan Litbang Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Nurman Kholis, M.Hum. selaku narasumber pada kesempatan tersebut memaparkan materi " Sosialisasi Draf Naskah Akademik Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara'. Ada 6 (enam) hal yang melatar belakangi adanya pengkajian tersebut :
- Menggali jejak sejarah Indonesia, khususnya jejak sejarah keberagamaan dalam latar keindonesiaan, perlu menelusuri jejak manuskrip yang berserakan di belahan Nusantara.
- Manuskrip merupakan elemen penting bagi eksitensi kebangsaan, sehingga jika diakui secara internasional akan turut memperkokoh kedaulatan bangsa.
- Saat ini naskah-naskah kuno Nusantara diperhatikan dan dipelajari oleh bangsa asing. Sebaliknya justru diterlantarkan dan diacuhkan oleh bangsa sendiri.
- Jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri mencapai angka 26.000. Itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain. Perpusnas hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno.
- Banyak naskah kuno yang memuat sejarah Indonesia masih tersebar di berbagai negara. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan tersimpan di berbagai museum di dunia dan
- Kementerian Agama RI perlu mengupayakan secara lebih serius untuk mendapatkan salinan digital dari semua naskah Indonesia terutama terkait keagamaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk kemudian ditelaah local wisdom dan subtansi di dalamnya dan dikontekstualisasikan saat ini.
Kegiatan FGD ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi tentang rencana pembentukan Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara yang rencananya di launching Menteri Agama pada bulan Oktober 2019. Dengan harapkan agar para akademisi, pemerhati manuskrip dapat memberikan masukan terkait rencana pembentukan pusat kajian manuskrip tersebut.
Dengan adanya kegiatan FGD tersebut Indonesia memiliki pusat kajian manuskrip hingga bisa melestarikan khazanah kebudayaan tertulis bangsa indonesia yang berupa manuskrip-manuskrip tentang keagamaan. Kegiatan tambah seru dengan dibukanya sesi tanya jawab oleh moderator Aris Bintania,M.Ag.
Hal tersebut sejalan dengan program perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. Kepala Perpustakaan Unyil, S.Pd saat menanggapi materi yang disampaikan oleh narasumber mengatakan Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sesuai Visi dan Misi STAIN SAR Kepri yang mengedepankan keilmuan, kemelayuan dan keislaman, serta pengembangan lembaga berdasarkan kerangka pikir Ketua STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau Dr. Muhammad Faisal,M.Ag yang terbagi dalam 4 Fase dalam kurun 20 tahun kedepan maka STAIN Sultan Abdurrahman Krepulauan Riau melalui perpustakaan akan menjadi pusat kajian dunia terkait ketiga hal tersebut. Mengingat banyaknya naskah-naskah melayu dan keislaman yang ada di Kepulauan Riau yang saat ini keberadaannya masih berpencar-pencar ada dibawa ke luar negeri ada juga masih disimpan oleh ahli waris, tentu untuk mewujudkan mimpi tersebut dibutuhkan waktu, SDM, fasilitas penunjang seperti gedung serta dana dengan adanya kegiatan seperti FGD yang diadakan oleh Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan Dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI tersebut merupakan wadah diskusi, tukar informasi sehingga mendapat masukan, bimbingan dan dukungan.
Melibatkan kaum intelektual STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Kepri kembali menjadi pusat kajian dunia dalam hal keislaman dan kemelayuan dimasa mendatang, harapan tersebut disampaikan oleh peserta FGD kepada narasumber.
