DIKLAT PELESTARIAN FISIK BP 2021: Restorasi Karya Rekam

image

Diklat Pelestarian Fisik Bahan Perpustakaan Angkatan 1 Tahun 2021, pada hari ke sembilan materi yang disampaikan "Retorasi Karya Rekam " yang disampaikan oleh Bapak Aris Riyadi, S.Si., M.Hum). Rabu (02/06/21).

Karya rekam adalah setiap karya intelektual dan/atau artistik yang direkam, baik audio maupun visual dalam bentuk analog, digital, elektronik, optikal, atau sejenisnya yang diperuntukkan bagi umum.

[caption id="attachment_5584" align="aligncenter" width="600"] Perekembangan Media Penyimpanan dari Masa ke Masa[/caption]

Karya rekam terbagi menjadi Disc Optic (Audio-Video), Foto (Gambar/visual), Kaset magnetic (Audio), dan Mikrofil/film (Gambar Visual).

Cepatnya perkembangan teknologi media penyimpan membawa banyak manfaat terhadap cara akses pemustaka menuju koleksi yang dituju. Pertumbuhan jumlah volume material yang harus dipertahankan, penggunaan media yang relatif tidak stabil, cepatnya perubahan akan perangkat keras, perangkat lunak, dan teknologi lainnya, beragam format dan standar file yang berubah, ketidakpastian tentang koleksi prioritas yang harus dijaga adalah tantangan besar perpustakaan dalam mengelola pelestarian. Pengalaman dan penerapan praktik terbaik dapat menjawab tantangan tersebut sehingga dua sisi mata uang antara artefak dan informasi tidak perlu diragukan lagi keduanya sangat penting untuk dilestarikan. Walaupun kebanyakan karya rekam memiliki umur yang relatf lebih pendek namun kehilangan informasi yang ada didalamnya merupakan sebuah kerugian besar bagaimana peradaban itu dibangun pada masanya.

Faktor penyebab terjadinya kerusakan pada koleksi karya rekam dan pencegahannya:

Kerusakan pada koleksi film

Kerusakan yang dipengaruhi oleh matrial penyusun koleksi tersebut. Bahan dasar (Base) dan emulasi adalah material yang rentan terhadap kerusakan kimiawi dan makanis. Kerusakan film disebabkan oleh: 1). Kerusakan mekanis terjadi bila salah peanganan  misal pada saat memegang, menggulung, menaruh pada boksnya. Karena akan terkena debu, kotoran, goresan; 2). Jamur dan lumut ini terjadi bila disimpan dalam kondisi lembab, biasanya organisme memulai serangan dari tepi luar dan masuk ke film; 3). Sindrom vineger, seperti air, kelembaban tinggi dan panas yang bisa merusak dasar plastik film asetat. Ciri-ciri dari kerusakan ini (a). Film mulai berbau seperti cuka; (b). Dasar film mulai menyusut; (c). Film kehilangan fleksibilitas; (d). Emulasi retak merata akhirnya mengelupas; (e) Terdapat serbuk putih yang muncul pada tepi dan permukaan film. 4). Penyusutan, peluruhan asetat ini disebabkan kondisi penyimpanan kering, film kehilangan kelembaban, berkontraksi, dan dapat menjadi rapuh; 5). Warna pudar, lapisan pewarna akan kehilangan warna aslinya seperti warna kuning kemudian diikuti cyan. Bila ini terjadi keseimbangan warna berubah; 6). Penuruanan Nitrat, Degradasi nikrat adalah proses kimiawi ; 7). Kerusakan jalur magnetik, Film asetat dengan trek suara magnetik sangat rentan terhadap sindrom cuka.

Untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat dari faktor-faktor diatas adalah pastikan kondisi lingkungan penyimpanan stabil, bersih dengan pengaturan suhu, cahaya sesuai standar yang ditetapkan maka kerusakan bisa dikendalikan dan bila ada indikasi kerusakan maka segeralah ditangani agar kerusakan boisa dicegah sedini nmungkin.

Kerusakan pada Koleksi Fotografi

Foto komposit terdiri dari beberapa lapisan, setiap lapisan memiliki fungsi masing-masing, kerusakan pada foto bersifat kimiawi, biologis, atau fisik. Penyebab kerusakan 1). Degrasi gambar (a). Gambar kabur, itu terjadi dikarenakan lapisan gelatin melindungi deposit perak dari lingkungan sampai taraf tertentu, selain itu  peningkatan kelembaban relatif, polusi udara, zat pengoksidasi yang menembus gelatin; (b). Sulfiding dan kotoran, disebabkan pada saat pencucian yang tidak tepat. Bahan kimia fixer yang tertinggal akan terurai jika terdapat lkelembaban relatif tinggi dan bergabung dengan perak untuk membentuk noda perak sulfida berwarna; (c). Cermin perak, ini terjadi ketika perak terlepas dari fiamen, bermigrasi dan membentuk lapisan dari permukaan, diakibatkan polusi udara dan kelembaban mengoksidasi sebagian perak yang membentuk citra; (d). Pewarna memudar, diakibatkan kondisi lingkungan (suhu, kelembaban relatif, pencahayaan); (e). Mikroorganisme dan serangga, Higroskopis gelatin membuat foto rentan terhadap mikroorganmisme. Seperti bintik abu-abu, hilangnya citra merupakan indikasi tumbuhnya jamur. Degradasi yang disebabkan oleh serangga (silverfish, kecoa dan lainnya).

Untuk mencegah timbulnya kerusakan seperti di atas dapat dicegah denagan memperhatikan kondisi lingkungan seperti pengaturan suhu, kelembaban, pencahayaan, kebersihan.

Kerusakan pada koleksi Cakram Optik (CD)

Cakram optik merupakan salah satu media penyimpanan media digital. Faktor yang menyebabkan CD rusak; 1). Kerusakan Fisik CD, bisanya disebabkan oleh penangan kurang tepat, seperti goresan akan mengganggu proses pembacaan; 2). Kerusakan kimiawi pada CD, Tinta yang digunakan untuk lebel dapat menyebabkan migrasi dan merusak lapisan logam, uap air berdifusi ke dalam polikarbonat dan menyebabkan oksidasi pada lapisan logam aluminium, ini akan mengganggu kemampuan membaca data; 3). Goresan pada cakram optik, hilangnya data saat CD sedang dibaca, disebabkan sidik jari, noda, goresan, kotoran, debu, pelarut, kelembaban yang mengganggu laser untuk membaca. Goresan mempengaruhi dist secara berbeda tergantung goresan. (a). Goresan pada sisi pembaca leser CD dan DVD, bisanya goresan yang melintasi jalur data pada disk, seberapa dalam dan lebar goresan tersebut akan menentukan tingkat kerusakan; (b). Goresan disisi lebel CD, bisa menjadi masalah serius, karena lapisan logam reflektif dan lapisan data sangat dekat dengan permukaan sisi lebel cakram; (c). Sidik jari, Noda, Kotoran dan debu, masalah tersebut akan menghalangi intensitas cahaya leser, yang menimbulkan  drive disk kehilangan data saat disk sedang dibaca.

Untuk mencegah timbulnya kerusakan diakibatkan oleh faktor di atas , kita harus memastikan permukaan CD baik bagian bawah maupun bagian atas harus dipastikan dalam keadaan bersih, baik dari segi lingkungan penyimpanan (pelindung disk) maupun pada saat menggunakannya. Bila terjadi salah penanganan sesegra mungkin mengambil tindakan untuk membersihkan dari hala-hal yang bisa menyebabkan timbulnya kerusakan.